Daya Serap Alumni Pariwisata

Posted by Tovic 'Sobat' Malakian on 00.08

Alumni sekolah pariwisata menjadi prioritas utama dalam industri pariwisata, baik dalam maupun luar negeri. Permintaan tenaga kerja di industri pariwisata saat ini masih diibaratkan “sumur yang mencari timba”.

Pertumbuhan industri pariwisata saat ini, baik lokal, nasional maupun internasional, belum sebanding dengan lulusan dari sekolah pariwisata itu sendiri. Hal ini disebabkan karena sekolah pariwisata lebih mengedepankan kualitas dari pada kuantitas siswa. Direktur Quality Tourism School, Anggiat Sinaga mengatakan, sekolah pariwisata memberikan kontribusi yang sangat besar dalam industri pariwisata. Dalam arti, lulusan dari sekolah pariwisata akan terserap secara baik di industri pariwisata, bukan hanya di Sulsel tetapi juga di Indonesia pada umumnya, bahkan di luar negeri.




Dikatakannya, karena ada kekhawatiran munculnya kendala dalam mendapatkan tenaga kerja yang profesional, maka Hotel Clarion Makassar membuka Quality Tourism School (QTS) bekerja sama de-ngan Career Development Institute “CDI” dan Choice Hotels Indonesia Group, untuk mencetak tenaga siap kerja yang berpengetahuan, terampil dan beretika untuk hotel-hotel berbintang. “Kini QTS kewalahan melayani permintaan tenaga kerja perhotelan di Malaysia. Sekarang ini dibutuhkan 50 orang yang akan ditempatkan di sana dan akan berangkat pada bulan Oktober. Kami dari Quality Tourism School untuk hal tersebut kewalahan dan bingung mencari orang-orang yang akan diberangkatkan ke Malaysia,” paparnya.

Di Makassar, ulas Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) ini, pertumbuhan hotel sangat baik. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, segera akan beroperasi tempat wisata yang terbesar seperti trans studio. Begitu juga Bosowa, dan daerah Panakkukang, Mamuju dan Sengkang.
Tentu dibutuhkan tenaga-tenaga profesional. Utamanya, lulusan-lulusan dari sekolah pariwisata menjadi alternatif pertama yang akan direkrut menjadi kar-yawan untuk hotel dan restoran tersebut, katanya.



Satu hal yang jadi kebanggaan dari lulusan akademi pariwisata maupun sekolah pariwisata, jelas Anggiat, mereka tidak hanya bisa bekerja di industri perhotelan semata, tetapi juga sangat layak untuk diterima di industri lainnya, seperti perbankan dan penerbangan.
Jadi memang saya lihat peluang kerja para lulusan tersebut sangat terbuka lebar. Di Hotel Clarion sendiri, dari jumlah seluruh karyawan, sekitar 30-35 persen pegawainya merupakan alumni perhotelan.
jelas General Manager Hotel Clarion Makassar ini.

Sementara itu, Humas dan Hubungan Industri dalam dan Luar Negeri SMKN 8 Makassar, Rahmawati Sangaji mengatakan, ketika siswanya selesai mengikuti PSG/Praktek Industri, umumnya perusahaan tempat mereka praktek langsung memberi tawaran untuk bekerja.
Ada dua hal yang ditawarkan oleh perusahaan tempat siswa melakukan praktek kerja industri, yaitu bekerja setelah selesai sekolah, dimana siswa setelah pulang dari sekolah, dapat masuk di shift kedua yaitu pukul 15.00 wita sampai pukul 23.00 wita, atau bisa juga nanti setelah siswa itu tamat,
terang Rahmawati.

SMKN 8 Makassar bekerja sama dengan beberapa hotel, baik dalam maupun luar negeri, mulai dari bintang tiga hingga bintang lima. Seperti Makassar Golden Hotel, Hotel Clarion, Hotel Quality, Hotel The Banua, Hotel Sahid, dan Hotel Imperial.
Kami juga memiliki MoU dengan hotel-hotel tersebut. Untuk di luar negeri kami menjalin kerjasama dengan Malaysia, Singapura dan Inggris. Malah di Inggris, ada siswa kami yang sudah tujuh tahun bekerja. Inilah yang menjembatani adik-adik tingkatnya yang akan berangkat ke sana dengan mencarikan industri tempat bekerja yang cocok. Bagi mereka sekarang ini ada 20 siswa yang sedang praktek industri di sana, demikian pula di Malaysia,
tuturnya.




Daya serap alumni pariwisata dari SMK Negeri 8 di dunia kerja, sambung Rahmawati, adalah sekitar 75 persen karena setelah tamat ada yang kuliah dan ada yang berumah tangga sehingga tidak langsung bekerja.
Andaikan tidak kuliah dan tidak berumah tangga, saya yakin bisa seratus persen, karena industri sangat membutuhkan mereka sebagai tenaga-tenaga terampil, bahkan permintaan tenaga kerja sudah ada sejak siswa tengah menjalankan Ujian Nasional. Kami selalu menangani dan melayani dengan baik semua kebutuhan siswa tersebut berdasarkan permintaan yang kami terima.
ujarnya.